Model Pembelajaran Pair Checks

model pembelajaran pair checks
Model pembelajaran pair checks – moneyonefcu.org

Model Pembelajaran Pair Checks – adalah salah model pembelajaran kolaboratif yang dapat diaplikasikan untuk kegiatan belajar mengasyikkan. Karena pemilihan metode yang tepat merupakan salah satu cara untuk mendapatkan keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar.

Model pair checks pertamakali diperkenalkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1990. Jadi, pada dasarnya kita itu sudah ketinggalan jaman bila baru menerapkannya tahun-tahun ini, apalagi bila kita baru tahu sekarang apa itu model pembelajaran pair checks, sungguh ironi sekali.

 

Pengertian Model Pembelajaran Pair Checks

Kurniasih dan Sani (2016: 111) berpendapat bahwa, model pembelajaran pair checks adalah proses belajar kelompok yang mengedepankan kerja kelompok. Setiap peserta didik dalam kelompok tersebut harus memiliki kemandirian belajar serta harus mampu menyelesaikan persoalan yang diberikan oleh guru.

Sejalan dengan itu, Huda (2014: 211) memiliki pandangan yang sama bahwa, pair checks adalah model pembelajaran kooperatif yang membutuhkan kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaika nmasalah.

Faiq (2013) berpendapat bahwa model pembelajaran pair checks adalah modifikasi dari model pembelajaran think pairs share. Faiq menambahkan bahwa inti model pair checks adalah ketika peserta didik diminta untuk saling mengecek jawaban atau tanggapan dari pertanyaan guru saat saling berpasangan.

Sedangkan menurut Danasasmita (2008: 18) model pembelajaran pair checks ini dapat membantu peserta didik yang kurang aktif atau pasif ketika belajar. Karena pada model pembelajaran pair checks, setiap peserta didik dituntut untuk bekerja secara berpasangan dan kooperatif.

 

Langkah-langkah Model Pembelajaran Pair Checks Menurut beberapa Ahli.

Menurut Shoimin (2014: 119), model Cooperative Learning tipe Pair Checks memiliki beberapa langkah penerapan seperti berikut:

  1. Bagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok.
  2. Masing-masing kelompok terdiri dari 4-6 orang.
  3. Bagi lagi kelompok-kelompok tersebut agar siswa dapat berpasang-pasangan. Gunakan nomor pada setiap pasangan (misal, A, B, C)
  4. Bagikan LKS kepada setiap pasangan. Berikan bebeapa soal (jumlah soalnya genap) untuk diselesaikan oleh masing-masing pasangan.
  5. Berikan kesempatan pada pasangan A untuk mengerjakan satu soal. Sementara, pasangan yang lain mengamati, memberi semangat, dan memberikan bimbingan kepada pasangan A dalam mengerjakan soal (bila diperlukan)
  6. Lakukan langkah pada poin 5 kepada pasangan B, C dan seterusnya.
  7. Setelah selesai semua, berikan waktu pada setiap pasanganuntuk mengecek jawabannya sendiri dan pasangan lainnya dalam 1 kelompok.
  8. Setiap kelompok yang memperoleh kesepakatan (kesamaan pendapat/cara memecahkan masalah/menyelesaikan soal)
  9. Guru memberikan reward pada kelompok yang berhasil menjawab, guru juga dapat memberikan pembimbingan bila kedua pasangan dalam kelompok mengalami kesulitan.
  10. Langkah nomor 4, 5, dan 6 diulang lagi untuk menyelesaikan soal nomor 3 dan 4, demikian seterusnya sampai semua soal pada LKS selesai dikerjakan setiap kelompok.

 

Daftar Pustaka

  1. Danasasmita, Wawan. 2008. Model-Model Pembelajaran Alternatif. Bandung: UPI
  2. Huda, Miftahul. 2014. Cooperatif Learning. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
  3. Kurniasih Imas & Seni Berlin. 2016. Ragam Pengembangan Model Pembelajaran untuk peningkatan profesionalitas Guru. Kata Pena. Yogyakarta.
  4. Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

 

 

 

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *