Definisi Miskonsepsi dalam Memahami Konsep Suatu Pembelajaran

Wawasan Edukasi – Miskonsepsi atau konsepsi merupakan sebuah kejadian dimana seseorang salah menafsirkan sebuah konsep. “Konsepsi merupakan tafsiran yang dilakukan oleh seseorang” (Tayubi, 2005). Miskonsepsi atau salah konsep dapat dialami oleh siapa saja. Bukan hanya pada pelajaran fisika, miskonsepsi juga dapat terjadi pada semua mata pelajaran.

Miskonsepsi didefinisikan sebagai kesalahan pemahaman yang mungkin terjadi selama atau sebagai hasil dari pengajaran yang baru saja diberikan, berlawanan dengan konsepsi-konsepsi ilmiah yang dibawa atau berkembang dalam waktu lama (Mosik, 2010).

Kesalahan yang terjadi ini bisa disebabkan karena pemahaman siswa itu sendiri. Setiap manusia memliki pemikirannya sendiri dan terkadang membuat kesimpulan atas apa yang telah dialaminya. Beberapa diantaranya menyimpulkan sebuah kejadian secara harfiah saja tanpa ada telaah lebih lanjut dan tidak dihubungkan dengan konsep-konsep yang lainnya. Kelemahan ini terjadi karena siswa tidak mampu menghubungkan atau tidak dapat menemukan korelasi antara konsep yang satu dengan yang lainnya sehingga membuat mereka menjadi bingung dan sebuah kesalahan pemahaman dapat terjadi disini. Sebelum mereka memasuki kelas, setiap siswa memiliki konsep dan teori sendiri, kemudian informasi yang baru akan disesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah ada (Mosik, 2010). Oleh karena siswa juga memiliki pemikirannya sendiri dan apabila yang sedang dipikirkan itu adalah sebuah kebenaran menurut dirinya maka tidak ada yang bisa merubah pemikirannya. Berbeda jika orang tersebut sadar dengan pemikirannya dan menyadari bahwa yang sedang dipikirkan atau dipahami itu adalah pemikiran yang salah maka miskonsepsi disini dapat teratasi.

Fisika merupakan salah satu cabang ilmu yang didalamnya terdapat banyak sekali konsep-konsep yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari. Dalam belajar fisika, seringkali siswa hanya menghafal rumus-rumus fisika tanpa memahami konsep sehingga cenderung mengalami kesulitan dalam menerapkan materi fisika dalam kehidupan sehari-hari (Adriana, 2012). Kebiasaan siswa yang hanya menghafal rumus-rumus fisika tanpa memahami konsepnya juga akan semakin menghambat siswa dalam belajar fisika, karena fisika bukan hanya sekedar menghafal rumus akan tetapi pemahaman konsep dasar untuk menunjang pada konsep lanjutan yang lebih rumit dan menuntut untuk terus mengaitkan beberapa konsep sekaligus.

Tennyson & Park, dalam Schunk (2012; 412) mengajarkan konsep mecakup tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Menentukan struktur konsep untuk dapat memberikan contoh guna mengenali sifat-sifat penting dan sifat-sifat variabel.
  2. Mendefinisikan konsep dalam terma sifat yang penting, dan menyiapkan beberapa contoh dengan sifat yang penting dan sifat yang beragam
  3. Menyusun contoh-contoh dalam rangkaian berdasarkan sifat-sifat, dan memastikan bahwa contoh-contoh itu memiliki berbagai sifat di dalam rangkaian yang berisi contoh-contoh dari tiap konsep
  4. Mengatur dan menampilkan rangkaian dalam terma divergensi dan kesulitan contoh-contoh, dan menyusun contoh di dalam rangkaian apapun mengacu pada pengetahuan terkini pembelajar.

Mengajarkan konsep kepada siswa juga dapat dilakukan dengana cara “concept mapping” (Gabel, 2003). Menurutnya, concept mapping dapat membantu siswa untuk fokus dalam memahami hubungan antara beberapa konsep yang berkaitan, sehingga siswa dapat mengingatnya dalam waktu yang cukup lama. Meskipun Concept mapping akan membuat siswa merasa bosan, akan tetapi cara ini menurut Gabel akan lebih efektif dalam mengajarkan konsep ketika seorang guru melakukannya dengan variasi metode yang menarik.

Jadi miskonsepsi yang sering terjadi pada siswa adalah perbedaan konsep yang melekat pada ingatan siswa dan diyakini itu benar ternyata tidak sesuai dengan konsepsi yang dipegang oleh para ilmuan. Miskonsepsi pada siswa dapat diatasi jika siswa sudah merasa bahwa konsepsi yang diyakininya selama ini ternyata salah. Jika siswa belum sadar akan kesalahan konsepsinya maka miskonsepsi tidak akan bisa diatasi. Membuat siswa tersadar akan kesalahan konsepsi adalah tugas bagi pengajar dan harus diupayakan bagaimanapun caranya. Miskonsepsi pada siswa cenderung melekat selamanya karena konsepsi bisa juga dibilang sebuah keyakinan yang terus dipegang oleh siswa seperti halnya keyakinan seorang siswa terhadap sebuah agama. Dibutuhkan peran sebuah media pembelajaran agar pesan yang hendak disampaikan kepada siswa dapat diterima dengan.

a. Sudut Pandang Konstruktivisme Mengenai Miskonsepsi Fisika Siswa
Miskonsepsi yang terjadi pada siswa secara filosofis dapat dijelaskan oleh pandangan filsafat konstruktivisme. Seperti yang telah diketahui bahwa pandangan aliran konstruktivisme ini berkeyakinan bahwa pengetahuan yang diperoleh siswa sifatnya tidak datang begitu saja. Menurut pandangan konstruktivisme, peserta didik sebagai subjek pembelajaranlah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pembelajar (Saefuddin & Berdiati, 2015: 13). Ilmu pengetahuan itu dibentuk sendiri oleh siswa dengan penalaran-penalaran siswa baik itu yang belum terarah dan yang sudah terarah dengan adanya buku panduan, guru pengajar dan lingkungan siswa berada.

Oleh karena siswa sendiri yang mengkonstruksi pemahaman melalui apa saja yang telah dialami oleh siswa itu sendiri, bisa jadi pemahaman awal terhadap suatu konsep yang dipahami terjadi kesalahan sebelum dilakukannya pendidikan formal yang dilakukan oleh seorang guru atau sebuah lembaga. Konstruksi pemahaman ini terbentuk karena pengalaman yang diamali oleh siswa itu sendiri selama hidup. Pemahaman awal yang dimiliki oleh siswa sebelum diadakannya pendidikan formal inilah yang dinamakan dengan prakonsepsi atau konsep awal siswa (Suparno, 2013; 31).

Prakonsepsi atau pengetahuan awal yang dibangun oleh siswa sebelum adanya pembelajaran formal sering kali tidak cocok degan konsep para ilmuan yang telah disepakati bersama yang pada akhirnya menjadikan siswa mengalami sebuah miskonsepsi. Prakonsepsi dapat membantu siswa dalam memahami dan mengkoreksi sendiri mengenai kesalahan-kesalahan konsepsi yang telah diyakini oleh siswa (Hung, 2006). Pemahaman siswa yang tidak sejalan dengan pemahaman para ilmuan terkadang dapat dengan mudah diluruskan ketika siswa diberikan sebuah pengalaman langsung dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami oleh siswa baik itu dalam segi bahasa dan segi konteks. Kekeliuran konsep terkadang juga akan sulit diluruskan jika konsep tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan seringkali berguna dalam keseharian siswa. Karena ilmu pengetahuan sifatnya adalah konstruksi dari pemahaman siswa, baik itu dengan bantuan buku panduan, pemahaman dari guru, akan tetapi nalar siswa tetap berjalan sehingga siswa akan terus membangun pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang terbentuk akan berbeda pada setiap siswa meskipun mereka mendapatkan bahan yang sama, guru yang sama, dan buku yang sama.

Berkaitan dengan aliran konstruktivisme, kesalahan pemahaman pada umumnya lazim terjadi. Perbedaan dalam membangun pemahaman merupakan hal yang wajar bagi orang yang sedang belajar. Konstruksi pemahaman yang dilakukan oleh siswa juga dapat melatih siswa bagaimana membangun pemahaman yang benar. Dengan adanya perbedaan dalam mengkonstruksi pemahaman menunjukkan bahwa siswa benar-benar memperoleh pengetahuannya sendiri. Dari perbedaan pemahaman ini menunjukkan kepada guru bahwa sesungguhnya, siswa tidak boleh dipaksa untuk memahami pengetahuan yang dimiliki oleh guru sebelum siswa melakukan konstruksi pemahaman. Pemaksaan ini akan membuat siswa malas berfikir dan juga malas untuk mencari tahu kebenaran sesungguhnya. Dalam mengatasi permasalahan ini, seorang guru dituntut untuk dapat menjelaskan sebuah konsep yang salah kepada siswa dengan runtut dan sistematis disertai dengan sebuah bentuk contoh konkrit atau yang mendekati konkrit agar abstraksi yang terdapat dalam benak atau ingatan siswa menjadi jelas.

Menurut teori kognitif yang dikemukakan oleh Piaget, tahapan perkembangan kognitif anak dimulai dari tahap sensorimotor yang berhubungan dengan hal-hal yang konkrit sampai dengan tahapan formal atau abstrak yang menuntut siswa untuk mampu mengembangan pemahaman dan mengkoneksikan pemahaman yang telah dimiliki untuk memperdalam atau sebagai landasan untuk memasuki konsep yang lebih rumit. Karena pemahaman siswa dimulai dari hal yang konkrit kemudian menuju hal yang abstrak, maka untuk mempermudah siswa dalam memperoleh pemahaman atau mengkonstruksi pemahaman yang menuju ke tahap abstrak dibutuhkan kematangan dalam memahami sebuah konsep yang kongkrit. Mengapa siswa harus memahami persoalan pada tahapan pemahaman konkrit secara baik? Karena dikhawatirkan siswa belum memiliki kemampuan untuk mengeneralisasikan pemahaman pada tahaman konkrit ke pemahaman pada tahapan abstrak, belum mampu berfikir secara logis dan sistematis untuk memahami suatu persoalan pada tahapan abstrak. Siswa yang belum siap mengkonstruksi pemahaman pada tahapan abstrak akan mengakibatkan kekeliruan pada pemahaman yang sedang dibangunnya yang berujung pada munculnya miskonsepsi. Dari persoalan ini, menjadi suatu hal yang penting bagi seorang guru untuk memilih dan menunjukkan contoh-contoh yang konkrit dalam upaya menyederhanakan pemahaman yang abstrak kepada siswa dengan bantuan sebuah media pembelajaran.

b.    Faktor yang Menyebabkan Miskonsepsi
Miskonsepsi yang terjadi pada siswa disebabkan oleh banyak faktor. Selain berasal dari diri siswa, miskonsepsi juga dapat dipengaruhi oleh cara penyampaian guru, metode mengajar yang digunakan kurang tepat, buku ajar yang keliru atau yang lainnya. Secara lebih jelas Liliawati (2009) menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan miskonsepsi pada siswa diantaranya yaitu kondisi siswa, guru, metode mengajar, buku dan konteks. Sejalan dengan itu, Yuliati (2015) berpendapat bahwa aspek-aspek yang menyebabkan miskonsepsi adalah siswa itu sendiri, guru dan metode pembelajaran yang digunakan guru di dalam kelas. Sedangkan menurut Hung (2006) penyebab terjadi miskonsepsi pada pelajaran fisika karena banyaknya rumus yang berkaitan antara satu dan yang lainnya dan siswa tidak dapat mengkoneksikannya dengan baik. Bukan hanya itu, kesalahpahaman yang berkembang berdasarkan persepsi diperoleh dari interaksi sehari-hari dengan dunia fisik juga dapat membuat miskonsepsi dalam diri siswa terjadi.

Kondisi siswa dalam kelas sangat bervariasi, tidak jarang dalam satu kelas terdapat siswa dengan berbagai macam latar belakang budaya maupun bahasa. Penggunaan bahasa keseharian yang digunakan dalam belajar dan diskusi dapat memicu kesalahpahaman akan maksud dari sebuah kalimat. Miskonsepsi pada siswa dapat teratasi jika siswa tersebut menyadari akan keselahannya sendiri. Jika tidak ada yang bisa membuktikan secara eksplisit keselahan konsepnya, maka siswa akan cenderung mempertahankan apa yang diyakininya itu adalah suatu kebenaran menurutnya.

Miskonsepsi juga dapat timbul diakibatkan karena penguasaan dan pemahaman seorang guru akan sebuah materi yang disampaikan kepada siswa tidak mendalam. Seorang guru juga dituntut harus dapat menyampaikan materi kepada siswa dengan jelas dengan kata-kata yang terstruktur. Penggunaan kosa kata yang mudah dimengerti juga akan meminimalis terjadinya miskonsepsi. Penggunaan kata dalam menyampaikan sebuah penjelasan hendaknya disesuaikan dengan kondisi siswa baik itu usia ataupun penalaran siswa. Oleh karenanya banyak pendapat bahwa prakonsepsi sangat penting untuk dilakukan. Prakonsepsi dapat membantu siswa dalam memahami dan mengkoreksi sendiri mengenai kesalahan-kesalahan konsepsi yang telah diyakini oleh siswa (Hung, 2006).

Metode mengajar berkaitan juga dengan penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang digunakan dalam membantu menejelaskan materi. Pemilihan metode mengajar dan alat peraga yang kurang tepat juga dapat menyebabkan miskonsepsi. Misalnya seorang siswa yang melakukan pratikum namun tidak selesai. Siswa tersebut merasa yakin bahwa yang benar hanyalah yang telah mereka temukan, padahal yang mereka temukan datanya tidak lengkap.

Faktor terjadinya miskonsepsi yang berasal dari buku salah satunya yaitu penggunaan bahasa yang terlalu sulit dan kompleks. Tidak semua anak dapat mencerna dengan baik apa yang tertulis dalam buku, akibatnya siswa menyalah artikan maksud dari isi buku tersebut. Penggunaan gambar dan diagram dapat pula menimbulkan miskonsepsi pada diri anak.

Dalam hal ini penyebab khusus dari miskonsepsi yaitu penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, teman, serta keyakinan dan ajaran agama. Diskusi kelompok yang tidak efektif, misalnya kelompok didominasi oleh beberapa orang dan diantara mereka ada yang mengalami miskonsepsi, maka dia akan mempengaruhi teman-temannya yang lain.

c. Penelusuruan Minskonsepsi Siswa
Mengatasi permasalahan miskonsepsi yang dialami siswa tidak akan mungkin dapat dilakukan jika tidak mengetahui sejauh mana miskonsepsi yang dialami siswa. Mengetahui miskonsepsi siswa dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melakukan tes, wawancara, dan miskonsepsi (Purba, 2007). Menggunakan instrument tes argumentasi seorang guru dapat menganalisis seberapa banyak siswa memiliki konsepsi-konsepsi yang tidak sesuai dengan konsep ilmiah. Miskonsepsi dapat diatasi dengan pembuatan materi yang ditujukan khusus untuk mengatasi konsep-konsep yang sering salah (Gabel, 2003).

Mengetahui miskonsepsi siswa dapat dilakukan yaitu menggunakan metode CRI (Certainly of Response Index) sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hasan (1999) dan diadopsi oleh Tayubi (2005). Penelusuran miskonsepsi siswa menggunakan metode CRI ini didasarkan pada jawaban yang diberikan oleh siswa. Penilaian CRI dilakukan oleh responden dengan memberikan penilaian terhadap jawaban yang diberikan, seberapa yakin siswa tersebut dalam menjawab soal-soal yang diberikan. Kepastian jawaban tercermin dari skala CRI yang diberikan. Semakin rendah CRI yang diberikan menandakan bahwa terdapat keragu-raguan terhadap konsep yang dikuasainya. Sebaliknya, nilai CRI yang tinggi menandakan bahwa dia memiliki keyakinan terhadap konsep yang dimilikinya. Kriteria penilaian yang digunakan pada teknik CRI adalah skala nol sampai dengan lima. Angka 0 menunjukkan bahwa siswa benar-benar tidak memahami materi apa yang sedang dipelajarinya (Tottaly guessed answer). Angka 1 menunjukkan bahwa siswa memberikan jawaban dengan cara menebak (Almost a guess). Angka 2 menunjukkan bahwa siswa menjawab dengan keragu-raguan / tidak yakin (Not sure). Angka 3 menunjukkan bahwa siswa menjawab dengan yakin (sure). Sedangkan angka 4 menunjukkan bahwa siswa menjawab soal dengan benar-benar yakin dan memahami konsep (certain). Selanjutnya dalam melakukan penelusuran mengenai miskonsepsi yang terjadi pada siswa adalah membedakan mana siswa yang benar-benar mengalami miskonsepsi dan mana siswa yang tidak mengalami miskonsepsi, adalah dengan memberikan pertanyaan pada siswa dan kemudian siswa diminta untuk memberikan jawaban kepastian terhadap jawaban yang sudah dipilihnya.

Berikut adalah daftar miskonsepsi yang terjadi pada siswa dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Saputri & Nursaniah (2015) menggunakan teknik CRI.

  1. Menggambarkan proses benda dapat dilihat mata    –    Mahasiswa menganggap dapat terlihat mata apabila benda disinari sumber cahaya, termasuk cahaya dari matam-    Mahasiswa menganggap bahwa benda dapat dilihat setelah disinari cahaya pantul dari mata
  2. Melukiskan bayangan benda pada cermin datar    –    Mahasiswa menganggap bayangan bersifat nyata
  3. Menunjukkan sudut datang pada peristiwa pemantulan cahaya pada cermin datar    –    Mahasiswa menganggap sudut datang terbentuk antara sinar datang dengan bidang pantul
  4. Menganalisis panjang gelombang cahaya pada dua medium dengan indeks bias berbeda    –    Mahasiswa menganggap indeks bias sebanding dengan panjang gelombang
  5. Menganalisis pergeseran sinar bias pada dua medium dengan indeks bias yang berbeda    –    Mahasiswa menganggap jalannya sinar dari medium rapat ke kurang rapat dibelokkan mendekati garis normal, dan sebaliknya
  6. Menggambarkan sinar bias pada prisma    –    Mahasiswa menganggap jalannya sinar bias pada prisma lurus tanpa dibelokkan
  7. Menunjukkan sudut kritis pada peristiwa pembiasan cahaya    –    Mahasiswa menganggap sudut kritis terbentuk dari sinar datang dengan sudut bias lebih dari 900
  8. Menjelaskan konsep perbesaran bayangan    –    Mahasiswa menganggap jika bayangan benda lebih kecil dibandingkan benda maka tidak terjadi perbesaran
  9. Menggambarkan jalannya sinar pada mata rabun dekat    –    Mahasiswa menganggap pada rabun dekat bayangan benda jatuh didepan retina

Sedangkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwarna (2014) terhadap calon guru menggunakan teknik CRI diperoleh hasil seperti di bawah ini.

1    Menentukan jumlah bayangan pada dua cermin datar yang saling membentuk sudut    Sedang
2    Menghitung tinggi bayangan pada cermin datar    Rendah
3    Mendeskripsikan sifat bayangan pada cermin datar    Rendah
4    Mengidentifikasi sifat pemantulan cahaya pada cermin    Rendah
5    Menghitung titik pusat kelengkungan pada cermin cekung    Rendah
6    Menghitung jarak bayangan pada cermin cekung    Rendah
7    Menghitung selisih jarak benda pada cermin cekung    Sedang
8.    Menyebutkan sifat pada cermin cembung    Sedang
9    Mengidentifikasi sifat pembiasan pada lensa    Rendah
10    Menyebutkan sinar-sinar istimewa pada lensa cembung    Rendah
11    Menentukan letak ruangan bayangan pada lensa cembung    Sedang
12    Menghitung jarak bayangan pada lensa cembung    Sedang
13    Menyebutkan fungsi lensa pada mata    Tinggi
14    Menyebutkan fungsi alat optik    Tinggi
15    Menyebutkan sifar bayangan pada lup    Tinggi
16    Menghitung letak benda pada lup    Rendah
17    Menentukan perbesaran angular pada lup    Rendah
18    Menentukan titik dekat mata pada penderita hipermetropi    Rendah
19    Menentukan titik jauh pada penderita miopi    Rendah

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *