Pengertian dan Langkah-langkah Pengembangan Tes

PENGERTIAN DAN LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN TES

Pada sistem pendidikan formal, hasil belajar menjadi ukuran atas tercapainya tujuan dari proses belajar. Hasil belajar pada ranah kognitif, umumnya dapat diketahui melalui tes. Djemari Mardapi (2012: 108) mengemukakan, tes merupakan salah satu bentuk instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran. Tes terdiri atas sejumlah pertanyaan yang memiliki jawaban benar atau salah, atau semua benar atau sebagian benar. Tujuan melakukan tes adalah untuk mengetahui pencapaian belajar atau kompetensi yang telah dicapai peserta didik untuk bidang tertentu. Hasil tes merupakan informasi tentang karakteristik seseorang atau sekelompok orang.

Penggunaan tes sebagai instrumen dalam bidang pendidikan karena pada dasarnya, untuk mengungkap sesuatu yang tidak terlihat secara langsung pada diri manusia, seperti kemampuan kognitif, maka diperlukan stimulus untuk mengungkapnya. Dalam hal ini, stimulus berbentuk sejumlah pertanyaan dalam bentuk tes, yang digunakan untuk memperoleh informasi dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Ary, Jacobs & Razavieh (2010: 201) menjelaskan bahwa, a test is a set of stimuli presented to an individual in order to elicit responses on the basis of which a numerical score can be assigned. This score based on a representative sample of the individual’s behavior, is an indicator of the extent to which the subject has the characteristic being measure. Artinya, tes merupakan stimulus yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetaapan skor angka. Skor yang didasarkan pada sampel yang representatif dari tingkah laku pengikut tes, menjadi indikator mengenai seberapa jauh orang yang dites itu memiliki karakteristik yang diukur.
Pendapat serupa mengenai tes dikemukakan oleh Oriondo & Antonio, (1998: 9), “tests are devices used to obtain such information. Test provide teachers with information that can aid them in improving instruction. They also provide students with information that aid them in understanding themselves better”. Berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa, tes sebagai alat ukur dapat memberikan informasi, tidak hanya bagi guru melainkan juga bagi peserta didik agar peserta didik dapat memahami kemampuannya.
Tes juga memiliki kegunaan lain, selain memberikan informasi mengenai kemampuan peserta didik. Dalam hal ini, Allen & Yen (1979: 1) menjelaskan bahwa, tests can be used for evaluation, as when students are assigned grades in a class, individuals are certified to practice law or medicine, or the effectiveness of teaching programs is evaluated. Tests can be useful in counseling, as when we use an interest inventory to suggest potential careers or use a personality test to aid in marriage counseling. And test scores also are invaluable in research—for example, when classifying subjects in an experimental design or measuring different behaviors and examining their interrelationships.
Pendapat yang dikemukakan tersebut menunjukkan bahwa tes memiliki banyak kegunaan dalam berbagai aspek. Dalam aspek pendidikan, tes selain digunakan untuk memberikan informasi mengenai kemampuan kognitif peserta didik, tes juga umumnya digunakan pada penelitian eksperimen untuk mengetahui perbedaan kemampuan kelompok peserta didik yang diberi perlakuan dan yang tidak diberi perlakuan. 
Lebih spesifik, Nitko & Brookhart (2011: 5) mengemukakan bahwa, “a test is defined as an instrument or systematic procedure for observing and describing one or more characteristics of a student using either a numerical scale or a classification scheme”. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan tersebut dapat dipahami, bahwa tes merupakan instrumen atau prosedur yang sistematik yang digunakan untuk mengobservasi dan mendeskripsikan satu atau lebih karakteristik yang ada pada peserta didik yang disajikan dalam bentuk skala angka.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tes merupakan salah satu bentuk instrumen yang umumnya dapat digunakan untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kemampuan kognitif peserta didik dan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, untuk keperluan berbagai pihak. 
a.Bentuk Tes
Secara umum, bentuk tes yang digunakan pada bidang pendidikan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes non objektif. Tes objektif dilihat dari sistem pensekorannya sementara tes non-objektif pensekorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Bentuk tes objektif yang sering digunakan adalah bentuk pilihan ganda, benar salah, menjodohkan, dan uraian objektif. 
Tes objektif terdiri dari butir-butir yang dapat dijawab dengan memilih alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia, atau dengan mengisi jawaban yang benar dengan beberapa perkataan atau simbol. Kelebihan dari tes objektif ini adalah reliabilitas skor yang diberikan terhadap pekerjaan anak dapat dijamin sepenuhnya, butir-butir dalam tes objektif hanya mengandung satu jawaban yang bisa diterima. 
Sedangkan tes non-objektif dikenal dengan tes uraian, namun tes uraian tidak sepenuhnya bersifat non objektif. Djemari Mardapi (2008: 73) menjelaskan, tes uraian dapat dibedakan uraian objektif dan uraian non objektif. Tes uraian yang objektif  sering digunakan pada bidang sains dan teknologi atau bidang sosial yang jawaban soalnya sudah pasti, dan hanya satu jawaban yang benar. Tes uraian non-objektif sering digunakan pada bidang ilmu-ilmu sosial, yaitu yang jawabanya luas dan tidak hanya satu jawaban benar, tergantung argumentasi peserta tes. Tes uraian ini umumnya, digunakan untuk mengungkap bagaimana peserta didik mengingat, memahami dan mengorganisasikan gagasannya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. 
b.Pengembangan Tes
Sebagaimana yang telah dikemukakan, untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan kemampuan kognitif peserta didik, diperlukan pengembangan tes. Secara sederhana, Djemari Mardapi (2008: 110) menguraikan tahapan-tahapan dalam pengembagan tes secara umum yakni, “1) menyusun spesifikasi tes, 2) menulis tes, 3) menelaah tes, 4) melakukan uji coba tes, 5) menganalisis butir soal, 6) memperbaiki tes, 7) merakit tes, 8) melaksanakan tes dan 9) menafsirkan hasil tes.”. 
Wilson dalam (Edi Istiyono, 2014: 18-19) mengemukakan bahwa, pengembangan instrumen berupa siklus yang terdiri atas empat blok yakni, “(1) peta konstruk, (2) butir-butir, (3) skor butir-butir, dan (4) pengukuran. Pengembangan tes model kedua menurut Oriondo dan Antonio (1998: 34) terdiri dari lima tahapan, yakni: (1) perencanaan tes (planning test), (2) uji coba tes (trying out the test), (3) menetapkan validitas tes (estabilishing test validity), (4) menetapkan reliabilitas tes (estabilishing test reliability), (5) menafsirkan nilai tes (interpreting the test score)”. 
Sedangkan, model pengembangan tes menurut Oriondo dan Antonio (1998: 34) dapat diketahui sebagai berikut: 
I.Planning the Test
A.    Determining the Objectives
B.    Preparing the Table of Specifications
C.    Selecting the Appropriate Item Format
D.    Writing the Test Items
E.    Editing the Test Item
II.    Trying Out the Test
A.    Administering the First Tryout Item Analysis
B.    Administering the Second Tryout Item Analysis
C.    Preparing the Final Form of The Test
III.    Establishing Test Validity
IV.    Establishing Test Reliability
V.    Interpreting the Test Scores
Selain itu, terdapat pula modifikasi pengembangan tes, sebagaimana yang dikembangkan oleh Edi Istiono yang menggunakan modifikasi model pengembangan tes Model Wilson dan Model Oriondo dan Antonio dalam (Edi Istiyono, 2014: 22), yakni: (1) pengembangan awal tes, (2) uji coba tes, (3) pengukuran.  Dalam hal ini, tahap pengembangan awal tes meliputi: (1) penentuan tujuan tes, (2) penentuan kompetensi yang akan diujikan, (3) penentuan materi yang diujikan, (4) penyusunan kisi-kisi tes, (5) penulisan item berdasarkan prinsip-prinsip dimensi kognitif Anderson dan Krathwohl, (6) penyusunan pedoman penskoran, (7) validasi item tes, dan (8) perbaikan item dan perakitan tes. 
Pada tahap uji coba terdiri atas beberapa langkah, yakni: (1) penentuan subyek uji coba, (2) pelaksanaan uji coba, dan (3) analisis hasil uji coba. Sedangkan, pengukuran pada dasarnya merupakan uji coba pemakaian yang memiliki tujuan tidak hanya menentukan karakteristik instrumen melainkan juga menentukan kemampuan responden secara individual. Tahap ini meliputi: (1) perakitan tes untuk pengukuran, (2) pelaksanaan pengukuran, (3) analisis hasil pengukuran, dan (4) interpretasi hasil pengukuran.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *