Instrumen Penelitian

Instrumen Penelitian

Wawasan Edukasi – Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, baik data yang kualitatif maupun kuantitatif. Data kualitatif dapat berupa gambar, kata, dan atau benda lainnya yang non angka, sedangkan data kuantitatif adalah data yang bersifat atau berbentuk angka. Dalam penelitian kualitatif instrumen utamanya adalah peneliti sehingga yang dimaksud dengan instrumen penelitian dalam kesempatan ini adalah instrumen penelitian kuantitatif.

Data kuantitatif itu sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: data nominal dan data kontinum. Data diakatakan pada tingkat nominal atau berskala nominal apabila angka tersebut berfungsi untuk identifikasi, yaitu membedakan jenis subyek yang lainnya. Perbedaan angka hanya menunjukkan adanya obyek atau subyek yang terpisah dan tidak sama. Sementara itu data yang kontinum terdiri data yang berskala ordinal, interval, dan rasio.

Jenis-jenis Instrumen Penelitian

Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya (Suharsimi, 2004). Selanjutnya instrumen yang diartikan sebagai alat bantu atau merupakan sarana yang dapat diwujudkan dalam benda, contohnya: angket, daftar cocok, skala, pedoman wawancara, lembar pengamatan atau panduan pengamatan, soal ujian, dan sebagainya.

Tabel. Metode dan instrumen pengumpulan data (Suharsimi, 2005)

Instrumen untuk Tes
Pada umumnya pengambilan data menggunakan tes adalah untuk mengukur, walaupun beberapa bentuk tes bersifat deskriptif misalnya tes psikologi dan tes kepribadian. Namun, deskriptif yang dihasilkan tetap mengarah kepada karakteristik atau kualifikasi tertentu sehingga mirip dengan interpretasi dari hasil pengukuran. Tes pada dasarnya digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa telah menguasai pelajaran yang disampaikan terutama dalam aspek pengetahuan dan keterampilan.

Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan orang yang dites. Tes digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang siswa telah mengusai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan. Pada umumnya, penggunaan tes bertujuan untuk mengukur aspek-aspek perilaku manusia, seperti aspek kognitif afektif maupun psikomotor. Hal yang hendak diukur adalah tingkat penguasaan peserta didik terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan. Dalam hal ini, perlu dibedakan antara prestasi belajar dan hasil belajar. Prestasi belajar hanya mengukur dua aspek, yaitu aspek kognitif dan aspek psikomotor. Hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak seorang peserta didik, dengan demikian mengkur tiga aspek utama hasil pendidikan yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor.

Penyusunan kisi-kisi instrumen tes
Setelah tujuan tes ditetapkan, kegiatan berikuimya adalah menyusun kisi-kisi tes. Kisi-kisi ini padadasarnya merupakan tabel matrik yang berisi spesifikasi soal yang akan ditulis. Kisi-kisi berisi tentang tujuan, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, dan penilaian yang berisi bentuk dan jenis tagihan. Standar kompetenssi dijabarkan menjadi kompetensi dasar, kompetensi dasar dipecah menjadi beberapa iindikator, dan dari indikator inilah dibuat butir-butir instrumen. Ada tiga langkah yang harus dipenuhi untuk menulis kisi-kisi, yaitu: 1) memilih standar kompetensi dasar, (2) memilih kompetensi dasar, (3) menulis indikator, dan (4) menentukan bentuk tes. Secara garis besar, ada dua bentuk tes yang banyak digunakan oleh guru, yaitu bentuk obyektif dan bentuk uraian atau non-obyektif.

Baca: Pengembangan Tes

Instrumen untuk Non-Tes
Instrumen non-tes adalah instrumen selain tes prestasi belajar. Alat penilaian yang dapat digunakan antara lain adalah: lembar pengamatan/observasi (seperti catatan harian, portofolio, life skill) dan instrumen tes sikap, minat, dan sebagainya. Pada prinsipnya, prosedur penulisan butir soal untuk instrument non-tes sama dengan prosedur penulisan tes pada tes prestasi belajar, yaitu menyusun kisi-kisi tes, menuliskan butir soal berdasarkan kisinya, telaah validasi uji coba butir, perbaikan butir berdasarkan hasil uji coba.

Penyusunan kisi-kisi Instrumen non-tes 
Penyusunan instrumen non-tes didahului dengan penentuan definisi konseptual, kemudian dijabarkan lagi kedefinisi operasional. Dari definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi beberapa indikator yang selanjutnya dijabarkan menjadi butir-butir instrumen. Seperti yang telah dijelaskan di muka, instrumen nontes ini dibedakan menjadi dua, yaitu skala, angket, dan inventori.

Skala digunakan untuk mengukur konstruk atau konsep psikologis seperti: sikap, minat, motivasi, pendapat, dan trait lainnya, sedangkan angket digunakan untuk mengukur fakta, atau yang dianggap fakta seperti: pendidikan terakhir, jumlah anggota, penghasilan setiap bulan, dll. Sementara itu, inventori digunakan untuk mengungkap kepemilikan benda nyata, seperti: jumlah kursi, jumlah meja, dll. Secara ringkas, hubungan antara tujuan, metode dan instrumen yang digunakan pada Tabel berikut.

Angket 

Angket merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung. Instrument atau alat pengumpulan datanya juga berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Tujuan penyebaran angket ialah untuk mencari sebuah informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan. Disamping itu, responden mengetahui informasi tertentu yang diminta. Angket dibedakan menjadi dua jenis yaitu: angket terbuka dan angket tertutup.

Angket Terbuka

Pada angket dengan pertanyaan terbuka, berisi sebuah pertanyaan atau pernyataan yang dapat diisi oleh responden  dengan jawaban yang bebas tanpa ada unsure paksaan. Dalam soal angket, tidak ada anak pertanyaan ataupun sebuah rincian yang mengarahkan responden pada sebuah jawaban. Soal-soal yang terdapat pada angket harusnya pertanyaan yang bisa dijawab sesuai dengan persepsi responden itu sendiri.

Angket Tertutup

Dalam pembuatan angket tertutup, pertanyaan atau pertanyaan sudah disusun secara berstruktur di samping ada pernyataan pokok, juga ada anak pertanyaan atau sub pertanyaan. Pada angket tertutup, pertanyaan atau pertanyaan yang ada telah memiliki alternative jawaban yang tinggal dipilih oleh responden. Dengan kata lain, angket tertutup adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden yang diminta memberi jawaban tinggal memilih jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dalam pilihan jawaban dengan memberi tanda silang atau checklist.
Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut (Usman dan Akbar, 2003: 72):

  1. Keuntungan angket tertutup adalah: mudah diolah, responden tidak perlu menuliskan buah pikirannya, pengisian menggunakan waktu yang singkat, dan dapat menjaring responden yang relatif banyak karena responden lebih mendalam.
  2. Keuntungan angket terbuka adalah: responden dapat mengungkapkan buah pikirannya, dan berguna bila peneliti ingin mengetahui keadaan responden lebih mendalam.

Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:

  1. Kelemahan-kelemahan angket tertutup adalah: responden tidak mempunyai kesempatan untuk menjawab lebih bebas, dan ada kemungkinan responden asal mengisi saja.
  2. Kelemahan-kelemahan angket tertutup adalah: sukar mengolahnya, perlu waktu yang relatif panjang untuk mengisinya, dan nilai jawaban yang tidak sama.

Wawancara 

Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara mendalam serta jumlah responden sedikit. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi arus informasi dalam wawancara, yaitu: pewawancara, responden, pedoman wawancara dan situasi wawancara (Hadeli, 2006). Sedangkan menurut nasution (2003;113), wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.

Pengumpulan data menggunakan wawancara ini lebih sering digunakan dalam sebuah penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Wawancara dilakukan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual. Pedoman wawancara berisi tentang uraian penelitian yang biasanya dituangkan dalam bentuk daftar pertanyaan agar proses wawancara dapat berjalan dengan baik. Isi pertanyaan atau pernyataan bisa mencakup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi atau evaluasi responden berkenaan dengan fokus masalah atau variabel-variabel yang dikaji dalam penelitian (cresswell, 2008).

Sebagai keuntungan wawancara dikemukakan antara lain adalah (Nasution, 2003: 125):

  1. Dapat memperoleh keterangan yang sedalam-dalamnya tentang suatu masalah, khususnya yang berkenaan dengan pribadi seseorang.
  2. Cepat memperoleh informasi yang diinginkannya.
  3. Dapat memastikan bahwa respondenlah yang member jawaban. Dalam angket kepastian ini tidak ada.
  4. Dapat berusaha agar pertanyaan yang diajukan benar-benar dapat dipahami oleh responden.
  5. Wawancara memungkinkan fleksibilitas dalam cara-cara bertanya. Bilajawaban tidak memuaskan, tidak tepat atau tidak lengkap, pewawancara dapat mengajukan pertanyaan lain.
  6. Pewawancara yang sensitif dapat menilai validitas jawaban berdasarkan gerak-gerak, nada, dan ekspresi tubuh responden.
  7. Informasi yang diperoleh melalui wawancara akan lebih dipercaya kebenarannya salah tafsiran dapat diperbaiki sewaktu wawancara dilakukan. Jika perlu pewawancara dapat lagi mengunjungi responden bila masih perlu penjelasan.
  8. Dalam wawancara responden lebih bersedia mengungkapkan keterangan-keterangan yang tidak diberikannya dalam angket tertulis.

Wawancara juga mempunyai sejumlah kelemahan yang perlu diperhatikan agar peneliti sedapat mungkin mempengaruhinya, yaitu (Riyanto, 2001: 86):

  1. Kurang efisien, dilihat dari waktu, tenaga dan biaya.
  2. Faktor bahasa, baik dari segi pewawancara maupun responden sangat mempengaruhi hasil atau data yang diperoleh.
  3. Dapat menyulitkan dalam pengolahan dan analisis data yang diperoleh.
  4. Menekan responden untuk segera memberikan jawaban dari pertanyaan yang dilakukan oleh interviewer.
  5. Diperlukan adanya keahlian atau penguasaan bahasa dari interviewer.
  6. Memberikan kemungkinan interviewer dengan sengaja memutarbalikan jawaban. Bahkan memberikan kemungkinan interviewer untuk memalsu jawaban yang dicatat di dalam catatan wawancara atau tidak jujur.
  7. Apabila interviewer dan responden mempunyai perbedaan yang sangat menyolok sulit untuk mengadakan komunikasi interpersonal sehingga data yang diperoleh kurang akurat.
  8. Jalannya interviewer sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sekitar yang akan menghambat dan mempengaruhi jawaban dan data yang diperoleh.

Pengamatan / Observasi

Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke obyek penelitian utnuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Apabila obyek penelitian bersifat perilaku,tindakan manusia, dan fenomena alam, proses kerja dan penggunaan responden kecil. Observasi dapat dilakukan dengan cara partisipasi ataupun nonpartisipasi. Dalam observasi partisipasi, pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Pengamat ikut sebagai peserta. Dalam peserta non partisipasi pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan, dia hanya berperan sebagai pengamat dan tidak ikut dalam kegiatan.

Kedua jenis observasi ini ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan observasi partisipatif adalah responden yang diamati tidak mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi sehingga situasi dan kegiatan berjalan secara wajar tidak ada yang dibuat-buat. Namun, dalam melakukan observasi partisipatif, pengamat harus bekerja dua kali selain ikut serta dalam setiap kegiatan, pengamat juga sekaligus melakukan pengamatan dan hal ini yang membuat pengamat menjadi lupa dengan tugas penelitiannya karena terlalu focus dalam kegiatan yang diikutinya.

Pada observasi non partisipatif, pengamat dapat lebih focus dalam mengamati. Namun, karena responden mengetahui kehadirang seorang peneliti yang sedang melakukan pengamatan, maka perilaku atau kegiatan responden yang diamati bisa menjadi kurang wajar karena dibuat-buat.  Seperti halnya wawancara, sebelum melakukan pengamatan sebaiknya peneliti menyiapkan pedoman dalam melakukan observasi. Dalam penelitian kualitatif, pedoman observasi ini hanya berupa garis besar atau butir-butir umum kegiatan yang akan diobservasi. Rincian dari aspek-aspek yang diobservasi dikembangkan di lapangan dalam proses pelaksanaan observasi.

Dokumentasi

Dokumentasi ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan atau semua data yang relevan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang telah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung dengan foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.

Pencarian Populer

  • contoh instrumen penelitian kualitatif dalam tabel

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *